JAKARTA - Bagi sebagian besar masyarakat urban, aroma kopi di pagi hari adalah bahan bakar utama untuk memulai aktivitas. Namun, ketika memasuki bulan Ramadan, rutinitas ini harus berbenturan dengan kewajiban berpuasa selama belasan jam. Banyak pecinta kafein yang merasa khawatir jika kebiasaan mereka akan memicu dehidrasi atau gangguan lambung di siang hari. Kabar baiknya, bagi Anda yang sulit melepaskan ketergantungan pada kopi atau teh, para ahli medis memberikan lampu hijau, namun dengan serangkaian catatan penting yang tidak boleh diabaikan demi kesehatan ginjal dan hidrasi tubuh.
Saat berbuka puasa, tidak sedikit orang yang langsung mengonsumsi teh manis atau kopi dibandingkan air putih. Hal ini sering kali didorong oleh keinginan untuk mendapatkan energi instan setelah seharian berpuasa. Spesialis urologi Prof dr Harrina Erlianti Rahardjo, SpU(K), PhD menjelaskan, konsumsi teh atau kopi saat berbuka sebenarnya boleh saja, selama tidak berlebihan. Namun, ia menekankan bahwa air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh setelah seharian berpuasa. Air putih adalah satu-satunya cairan yang dapat menghidrasi sel tubuh secara optimal tanpa beban tambahan bagi ginjal.
Prioritas Hidrasi Air Putih di Atas Minuman Berkafein
Sebagai seorang ahli di bidang urologi, Prof Harrina memiliki pertimbangan medis yang kuat mengapa ia lebih merekomendasikan air mineral dibandingkan minuman berwarna atau berasa saat membatalkan puasa. "Jadi memang dianjurkan buat saya sebagai urologi sih, kalau menganjurkan yang terbaik adalah minum air putih sih. Karena yang pertama ya dia jelas nggak membuat beser gitu," ucapnya kepada. Sifat diuretik pada teh dan kopi dapat merangsang frekuensi buang air kecil, yang jika dikonsumsi berlebih justru akan membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Prof Harrina mengatakan, minuman seperti teh dan kopi boleh saja dikonsumsi sesekali. Namun, jumlahnya sebaiknya dibatasi dan tidak berlebihan, misalnya cukup satu cangkir saja untuk satu kali kesempatan. Ia juga menyarankan agar kebutuhan air putih dipenuhi terlebih dahulu sebelum mengonsumsi minuman lain. Tujuannya agar rasa kenyang atau begah dari minuman manis maupun berkafein tidak membuat seseorang kekurangan asupan air putih. Jika lambung sudah penuh dengan minuman manis, maka keinginan untuk minum air putih yang jernih akan menurun, padahal itulah yang paling dibutuhkan tubuh.
Waspada Bagi Pemilik Keluhan Beser dan Hipertensi
Penting untuk mengenali kondisi tubuh masing-masing sebelum memutuskan untuk meminum kopi di bulan Ramadan. Bagi orang yang memiliki keluhan sering buang air kecil atau sensitif terhadap kafein, konsumsi teh dan kopi sebaiknya lebih dibatasi. Dengan mengutamakan air putih saat berbuka, kebutuhan cairan tetap tercukupi tanpa mengganggu kesehatan ginjal maupun kualitas hidrasi selama puasa.
"Ya selalu kita bilangnya bahwa teh kopi boleh sesekali, tapi biasanya kalau sudah ada keluhan beser dan lainnya kita cenderung untuk menghindari. Tapi mayoritas adalah yang terbaik adalah air putih," ucapnya lagi. "Tapi kadang-kadang kan orang pengenlah ya, apalagi yang pecinta kopi atau teh, tapi asal jangan berlebihan-lebihan aja. Kalau cuma satu cangkir sih nggak apa-apalah. Tapi timingnya sih mungkin lebih baik agar kita sudah mencukupkan air putihnya dulu ya, biar kita nggak kenyang, kembung dengan cairan-cairan yang mungkin nggak sebaik air putih gitu loh," tuturnya lagi.
Aturan Waktu Minum Kopi Saat Sahur dan Buka Puasa
Senada dengan Prof Harrina, spesialis urologi dr Nur Rasyid, SpU, juga memberikan pandangan mengenai kapan waktu yang paling aman untuk menikmati secangkir kopi. Menurutnya, kopi boleh diminum saat sahur ataupun beberapa jam setelah berbuka puasa. Syaratnya, perut harus terisi terlebih dahulu jika memang mau minum kopi. Hal ini sangat penting untuk mencegah iritasi pada lapisan lambung yang sudah kosong dalam waktu yang sangat lama.
"Minum kopi nggak akan jadi bikin dehidrasi jika diminum saat sahur. Disesuaikan. Kalau mau setelah berpuasa bisa, tapi sesudah makan," katanya saat ditemui di Jakarta Selatan. Mengonsumsi kopi dalam kondisi perut kosong, terutama saat berbuka, dapat memicu produksi asam lambung yang berlebihan, yang justru akan mengganggu kenyamanan saat hendak melaksanakan ibadah salat tarawih.
Memperhatikan Kualitas Tidur dan Kondisi Kesehatan Jantung
Selain masalah lambung dan hidrasi, ada faktor lain yang sering terlupakan oleh penikmat kopi, yaitu kualitas tidur. Minum kopi saat berpuasa juga sebaiknya tidak di dekat waktu tidur. Sebab kandungan kafein dalam kopi bisa membuat seseorang sulit tidur, padahal istirahat yang cukup sangat krusial agar kondisi tubuh tetap bugar untuk bangun sahur keesokan harinya.
Selain itu, faktor kesehatan jantung juga tidak bisa diabaikan. "Kalau punya masalah hipertensi tentu harus dikurangi. Kalau sehat, boleh lah," ungkap dr Nur Rasyid. Kafein diketahui dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah sementara, sehingga bagi mereka yang sudah memiliki riwayat darah tinggi, konsumsi kafein di saat tubuh sedang menyesuaikan diri dengan pola puasa harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Pastikan meminum kopi dalam keadaan perut terisi dan penting untuk memastikan kondisi tubuh baik-baik saja saat minum kopi di bulan puasa.
Dengan mengikuti panduan medis di atas, para pecinta kopi tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar tanpa harus kehilangan momen menikmati minuman favorit mereka. Kuncinya terletak pada moderasi, pemilihan waktu yang tepat, dan komitmen untuk tetap memprioritaskan air putih sebagai sumber hidrasi utama bagi tubuh.