Kementerian PU Bangun Hunian Modular Cepat untuk Warga Tegal Terdampak Bencana

Rabu, 25 Februari 2026 | 09:12:06 WIB
Kementerian PU Bangun Hunian Modular Cepat untuk Warga Tegal Terdampak Bencana

JAKARTA - Upaya percepatan penanganan pascabencana kembali dilakukan pemerintah untuk memastikan warga terdampak dapat segera bangkit dan menjalani kehidupan yang layak. 

Menyusul bencana tanah geser yang melanda Kabupaten Tegal, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat dengan menyiapkan hunian sementara berbasis modular bagi masyarakat yang terdampak langsung.

Melalui PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Kementerian PU melaksanakan pembangunan hunian sementara atau huntara modular yang dirancang sebagai solusi cepat, aman, dan layak huni. Hunian ini menjadi tempat tinggal sementara bagi warga sambil menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah permanen pascabencana.

Lokasi pembangunan huntara berada di Desa Capar, Kabupaten Tegal. Penentuan lokasi tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi kajian geologi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral guna memastikan area hunian aman dari potensi longsoran lanjutan. Pemerintah menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama dalam penyediaan hunian darurat.

Huntara Disiapkan di Lahan Aman dan Terukur

Area proyek pembangunan huntara memiliki luas sekitar 47.000 meter persegi. Kawasan ini dirancang untuk menampung sebanyak 456 kepala keluarga atau setara dengan 1.824 jiwa yang terdampak bencana tanah geser. Perencanaan kawasan dilakukan secara terstruktur agar mampu menampung warga secara tertib dan nyaman selama masa tanggap darurat.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pembangunan hunian sementara dilakukan secara cepat agar masyarakat tidak terlalu lama berada dalam kondisi darurat. Menurutnya, pengalaman pembangunan huntara di berbagai wilayah menjadi bekal penting untuk mempercepat proses pengerjaan di Kabupaten Tegal.

“Huntara PU biasanya dikerjakan sekitar tiga mingguan. Harapannya sebelum Lebaran sudah bisa ditempati. Lengkap dengan fasilitas umum, kamar mandi, dan sarana pendukung lainnya. Kurang lebih seperti yang pernah kita bangun di Sumatera Utara dan Aceh, lengkap dengan tempat tidur, lemari, dan kipas angin,” jelas Menteri PU, Dody Hanggodo.

Teknologi Modular Percepat Proses Konstruksi

Huntara yang dibangun menggunakan sistem struktur baja modular MOLI. Sistem ini memungkinkan proses pemasangan dilakukan tanpa menggunakan alat berat, sehingga waktu konstruksi dapat dipersingkat sekaligus meminimalkan gangguan terhadap kondisi tanah di sekitar lokasi.

Setiap blok bangunan memiliki luas 288 meter persegi dan terdiri dari 16 modul. Dalam satu blok, hunian dapat menampung hingga 12 keluarga atau sekitar 48 orang. Konsep modular ini dipilih untuk memastikan efisiensi ruang sekaligus memberikan kenyamanan bagi para penghuni.

Fasilitas sanitasi juga dirancang dengan rasio yang memadai. Tersedia satu unit toilet dan kamar mandi untuk setiap delapan penghuni. Secara keseluruhan, kawasan huntara dilengkapi dengan 228 unit toilet dan 228 unit kamar mandi untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Hunian Terbagi dalam Zona dan Dilengkapi Fasilitas Sosial

Distribusi hunian sementara di kawasan ini dibagi ke dalam 11 zona yang diberi kode A hingga K. Total terdapat 38 blok bangunan yang tersebar di seluruh zona tersebut. Pembagian zona dilakukan untuk memudahkan pengelolaan kawasan serta memastikan distribusi penghuni berjalan tertib.

Selain unit hunian, pemerintah juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung untuk menunjang kehidupan sosial warga. Fasilitas tersebut meliputi mushola serta area terbuka yang dapat digunakan untuk aktivitas bersama, interaksi sosial, dan kegiatan warga selama masa penanganan darurat.

Penyediaan fasilitas sosial ini diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kebersamaan warga yang terdampak bencana, sekaligus menciptakan lingkungan hunian sementara yang lebih manusiawi.

Utilitas Lengkap dan Penataan Lahan Jadi Perhatian

Dari sisi utilitas, kawasan huntara dilengkapi dengan sistem air bersih yang disuplai melalui jaringan air dan sumur. Untuk pengolahan air kotor, digunakan instalasi biotech dengan kapasitas 5 meter kubik per blok bangunan. Sementara itu, air bekas dialirkan melalui sistem saluran drainase yang telah disiapkan.

Pasokan listrik untuk kawasan huntara terhubung langsung dengan jaringan PLN guna memastikan kebutuhan listrik warga terpenuhi. Selain itu, pekerjaan penataan kontur lahan menjadi bagian penting dari tahap persiapan area. Penataan dilakukan dengan metode undakan atau terasering untuk menjaga stabilitas tanah dan mengurangi risiko pergerakan tanah di kemudian hari.

Hingga dokumentasi per 17 Februari 2026, proyek pembangunan huntara ini didukung oleh berbagai alat berat, antara lain 7 unit excavator, 3 unit bulldozer, dan 1 unit vibro. Seluruh peralatan tersebut digunakan untuk mempercepat pekerjaan persiapan lahan dan konstruksi.

Wujud Kehadiran Negara di Masa Darurat

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menyampaikan bahwa proyek pembangunan huntara ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menjadi simbol kehadiran negara di tengah masyarakat yang terdampak bencana.

“Inisiatif ini selaras dengan semangat Asta Cita pemerintah, khususnya dalam penguatan ketahanan masyarakat, pemerataan pembangunan, dan perlindungan warga dalam situasi darurat. WIKA berkomitmen menghadirkan solusi konstruksi cepat, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung pemulihan kehidupan masyarakat,” ujar Agung Budi Waskito.

Dengan pembangunan hunian modular ini, pemerintah berharap masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Tegal dapat segera menempati hunian yang layak dan aman. Fasilitas tersebut direncanakan dapat segera dimanfaatkan sambil menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi hunian permanen, sehingga pemulihan kehidupan warga dapat berjalan lebih cepat dan terarah.

Terkini